Beda Nasib Guru Honor dan Petugas Dapur MBG: Sama-Sama Mengabdi, Kenapa Realitanya Berbeda?
Pendahuluan
Belakangan ini, publik ramai membahas soal beda nasib guru honor dan petugas dapur MBG. Di satu sisi, guru honor sudah puluhan tahun mengabdi di sekolah dengan gaji yang sering kali jauh dari kata layak. Di sisi lain, petugas dapur dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG) justru disebut-sebut menerima penghasilan yang relatif lebih besar dan lebih jelas sistemnya.
Fenomena ini memunculkan pertanyaan besar di tengah masyarakat: kok bisa berbeda? Padahal sama-sama bekerja untuk kepentingan publik, bahkan sama-sama berkontribusi pada masa depan anak-anak Indonesia.
Supaya diskusinya tidak sekadar emosional, yuk kita pahami dulu pengertian dan konsep dasar dari guru honor dan petugas dapur MBG. Dari situ, kita bisa melihat akar persoalannya secara lebih jernih.
Apa Itu Guru Honor? Memahami Konsep Dasarnya
Guru honor adalah tenaga pendidik yang diangkat bukan sebagai pegawai negeri tetap. Mereka biasanya direkrut oleh sekolah, yayasan, atau pemerintah daerah untuk mengisi kekurangan guru.
Secara umum, guru honor bisa dibagi menjadi beberapa kategori:
Guru honor sekolah (digaji dari dana BOS atau dana sekolah)
Guru honor daerah
Guru honorer K2 (kategori lama yang sudah lama mengabdi)
Secara konsep, guru honor bekerja dengan tugas dan tanggung jawab yang hampir sama dengan guru ASN (Aparatur Sipil Negara). Mereka mengajar, membuat perangkat pembelajaran, menilai siswa, hingga membimbing kegiatan ekstrakurikuler.
Namun secara status, posisi mereka berbeda. Mereka tidak memiliki:
Jaminan pengangkatan tetap
Kepastian jenjang karier
Tunjangan yang setara ASN
Gaji standar nasional yang seragam
Inilah konsep dasar yang sering jadi akar persoalan. Secara fungsi mereka vital, tapi secara sistem statusnya tidak kuat.
Siapa Itu Petugas Dapur MBG?
Petugas dapur MBG adalah tenaga kerja yang terlibat dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG), sebuah program pemerintah untuk menyediakan makanan bergizi bagi siswa.
Tugas mereka meliputi:
Menyiapkan bahan makanan
Memasak sesuai standar gizi
Menjaga kebersihan dapur
Mengatur distribusi makanan
Berbeda dengan guru honor yang berada di sektor pendidikan formal, petugas dapur MBG masuk dalam skema program sosial dan ketahanan pangan.
Secara konsep, mereka adalah tenaga kerja program berbasis proyek atau kebijakan nasional. Artinya:
Mereka direkrut dalam sistem yang dirancang khusus
Anggaran sudah ditentukan dari awal
Honor atau upah ditetapkan berdasarkan standar tertentu
Ada pengawasan program yang terstruktur
Karena sifatnya program prioritas nasional, maka sistem pembiayaannya pun relatif lebih jelas dan terukur sejak awal.
Perbedaan Konsep: Pendidikan vs Program Sosial
Kalau dilihat lebih dalam, beda nasib guru honor dan petugas dapur MBG sebenarnya bukan semata soal siapa lebih penting. Tapi soal sistem yang menaungi mereka.
1. Sistem Kepegawaian
Guru honor berada dalam sistem pendidikan yang kompleks dan bertingkat (pusat, provinsi, kabupaten/kota, sekolah). Statusnya sering kali bergantung pada kebijakan daerah.
Sementara petugas dapur MBG berada dalam satu program nasional yang sejak awal dirancang dengan struktur pendanaan yang jelas.
2. Sumber Anggaran
Guru honor sering digaji dari:
Dana BOS
Anggaran sekolah
Sisa alokasi pendidikan daerah
Artinya, gaji mereka sangat tergantung pada kondisi keuangan lembaga.
Petugas dapur MBG justru dibiayai melalui alokasi khusus program nasional. Jadi sejak awal sudah ada anggaran tersendiri untuk operasional dan tenaga kerja.
3. Kepastian Sistem
Guru honor banyak yang mengabdi bertahun-tahun tanpa kepastian status. Mereka menunggu seleksi PPPK atau formasi ASN yang jumlahnya terbatas.
Sebaliknya, petugas dapur MBG bekerja dalam kerangka kontrak atau sistem yang lebih langsung: bekerja → dibayar sesuai skema program bahkan akan diangkat PPPK.
Kenapa Perbedaan Ini Jadi Sensitif?
Topik ini sensitif karena menyentuh rasa keadilan sosial. Guru sering dipandang sebagai pahlawan tanpa tanda jasa. Mereka membentuk masa depan generasi bangsa.
Ketika muncul perbandingan bahwa petugas dapur MBG bisa menerima upah lebih tinggi dibanding sebagian guru honor, publik langsung bereaksi.
Padahal, kalau ditarik ke konsep dasarnya, masalahnya bukan pada siapa yang lebih layak dibayar tinggi. Tapi pada desain sistem yang berbeda.
Pendidikan kita memang sudah lama bergantung pada tenaga honor untuk menutup kekurangan guru tetap. Sementara program MBG adalah kebijakan baru yang dirancang dengan pendekatan anggaran langsung.
Jadi perbedaannya ada pada fondasi kebijakan, bukan semata pada profesinya.
Apakah Ini Soal Nilai Profesi?
Banyak orang mengira ini soal penghargaan terhadap profesi. Padahal, dalam konsep kebijakan publik, setiap sektor punya mekanisme pembiayaan dan regulasi yang berbeda.
Guru honor adalah bagian dari sistem pendidikan nasional yang belum sepenuhnya selesai dalam hal reformasi kepegawaian.
Petugas dapur MBG adalah bagian dari program prioritas yang sejak awal di-setting dengan standar biaya tertentu.
Jadi, beda nasib guru honor dan petugas dapur MBG lebih tepat dipahami sebagai beda desain kebijakan, bukan perbandingan nilai kemuliaan pekerjaan.
Karena faktanya, keduanya sama-sama penting:
Guru membangun kecerdasan
Petugas dapur mendukung kesehatan dan gizi
Dua-duanya berkontribusi untuk masa depan anak-anak Indonesia.
Memahami Masalah Tanpa Emosi Berlebihan
Sebagai masyarakat, penting untuk melihat isu ini secara objektif. Emosi boleh, tapi tetap perlu data dan pemahaman konsep.
Kalau kita hanya membandingkan angka gaji tanpa memahami sistemnya, diskusi bisa melebar dan menjadi tidak produktif.
Yang lebih penting adalah mendorong:
Perbaikan sistem pengangkatan guru
Kepastian kesejahteraan tenaga pendidik
Transparansi anggaran pendidikan
Evaluasi kebijakan secara menyeluruh
Dengan begitu, perbandingan seperti ini tidak lagi memicu polemik, tetapi menjadi bahan evaluasi kebijakan.
Kesimpulan
Beda nasib guru honor dan petugas dapur MBG bukan sekadar soal siapa dibayar lebih besar. Ini tentang perbedaan konsep, sistem, dan desain kebijakan yang menaungi mereka.
Guru honor berada dalam sistem pendidikan yang kompleks dan belum sepenuhnya tuntas dalam reformasi kepegawaian. Sementara petugas dapur MBG bekerja dalam program nasional yang sejak awal dirancang dengan alokasi anggaran khusus.
Keduanya sama-sama mengabdi. Keduanya sama-sama penting. Yang perlu diperbaiki bukan dengan membenturkan profesi, tetapi dengan memperbaiki sistem yang belum adil.
Call to Action
Menurut Anda, bagaimana seharusnya solusi terbaik untuk meningkatkan kesejahteraan guru honor tanpa mengurangi pentingnya program sosial seperti MBG?
Yuk, bagikan pendapat Anda di kolom komentar dan share artikel ini agar diskusi kita semakin luas dan konstruktif. Karena masa depan pendidikan dan generasi bangsa adalah tanggung jawab kita bersama.

0 Response to "Beda Nasib Guru Honor dan Petugas Dapur MBG: Sama-Sama Mengabdi, Kenapa Realitanya Berbeda?"
Post a Comment