Dulu Ia Gadis Bandung, Kini Ia Rindu Yang Tak Pernah Usai.
Monday, February 23, 2026
Add Comment
Ada nama yang sampai hari ini selalu membuat dada saya hangat sekaligus perih: Ibu, Siti Aisyah.
Beliau lahir di Bandung, di sebuah masa ketika tanah air ini belum benar-benar merdeka. Kota yang hari ini ramai dengan kafe dan hiruk-pikuk kendaraan, dulu adalah kota dengan suara sepatu tentara, kabar perang, dan bisik-bisik harapan tentang kemerdekaan. Ibu tumbuh di era penjajahan Jepang dan awal-awal Indonesia berdiri sebagai bangsa. Zaman yang keras, tapi justru melahirkan jiwa-jiwa yang kuat.
Kakek saya, H. Sadeli sering saya sebut Apa Bandung, dikenal sebagai tokoh agama di Bandung. Rumahnya bukan hanya tempat tinggal, tapi juga tempat orang-orang datang meminta nasihat, belajar mengaji, atau sekadar menenangkan hati. Di situlah Ibu kecil dibesarkan. Bukan di rumah yang penuh kemewahan, tapi di rumah yang penuh doa.
Ibu sering bercerita—dengan mata yang menerawang jauh—tentang masa kecilnya. Tentang keikhlasan Apa Bandung, tentang beras yang harus dihemat, tentang suara sirene dan kabar yang membuat orang-orang dewasa berbisik cemas. Tapi anehnya, ketika Ibu bercerita, tak ada kebencian di wajahnya. Yang ada justru rasa syukur.
“Zaman itu susah, Nak… tapi orang-orangnya saling jaga,” katanya suatu hari.
Ia bersekolah di Sekolah Rakyat. Bangunan sederhana, papan tulis hitam yang mulai kusam, kapur yang kadang harus dipakai bergantian. Namun di sana, Ibu kecil belajar mengeja huruf, belajar berhitung, dan—yang lebih penting—belajar tentang akhlak mulia. Pendidikan bukan sesuatu yang mudah diakses saat itu. Banyak anak perempuan berhenti sekolah lebih cepat. Tapi kakek saya ingin putrinya berilmu.
Setelah lulus Sekolah Rakyat, Ibu melanjutkan ke MULO—yang sekarang setara dengan SMP. Di masa itu, melanjutkan sekolah bagi perempuan bukan perkara biasa. Itu sebuah kebanggaan sekaligus perjuangan. Ibu remaja berjalan dengan buku-buku di tangan, membawa harapan orang tuanya. Tahun 1957, ia lulus SMP. Tahun yang mungkin bagi orang lain biasa saja, tapi bagi keluarga kami, itu adalah tonggak sejarah.
Di usia yang masih sangat muda, selepas lulus, Ibu menikah dengan seorang guru ngaji bernama Muhammad Ujang Majazi, yang kelak saya panggil Apa. Lelaki sederhana, berilmu, dan teguh dalam agama. Pernikahan mereka bukan tentang pesta mewah atau gaun gemerlap. Itu adalah pernikahan dua jiwa yang sama-sama dibesarkan oleh nilai agama dan kesederhanaan. Apa orang yang soleh, itulah salah satu alasan mengapa Apa Bandung menerima lamaran Apa.
Setahun kemudian, tahun 1958, lahirlah putri pertama mereka. Khoeriyatul Umniyah nama indahnya. Nama ini seperti doa agar pemiliknya tumbuh menjadi wanita salehah, menjadi kebanggaan orang tua, menjadi cahaya dan manfaat bagi sekitar dan menjadi wujud dari harapan terbaik keluarga.
Seorang bayi kecil yang mungkin belum mengerti bahwa ia dilahirkan dari rahim seorang perempuan yang sudah begitu banyak melewati zaman sulit. Dari seorang gadis kecil yang hidup di bawah bayang-bayang penjajahan, menjadi seorang ibu yang menggendong harapan baru bangsa yang merdeka.
Kadang saya membayangkan Ibu muda saat itu. Menggendong bayi pertamanya dengan tangan yang masih lugu, dengan hati yang penuh doa. Mungkin ia tak punya banyak harta. Tapi ia punya warisan terbesar: keteguhan iman, kesabaran, dan cinta tanpa syarat.
Hari ini, ketika Ibu sudah tiada, kisah-kisah itu terasa seperti harta karun. Dulu mungkin saya mendengarnya sambil lalu. Sekarang, saya ingin waktu bisa diputar kembali. Saya ingin duduk lebih lama di sampingnya, mendengarkan ulang cerita tentang Bandung tempo dulu, tentang sekolahnya, tentang bagaimana ia pertama kali menjadi seorang ibu.
Nama itu—Ibu Siti Aisyah—bukan hanya nama di batu nisan. Ia adalah sejarah kecil tentang keteguhan perempuan Indonesia. Ia adalah pelukan yang tak bisa lagi saya rasakan, tapi kehangatannya masih tinggal di dada.
Dan setiap kali rindu itu datang, saya sadar…
kita mungkin kehilangan sosoknya,
tapi kita tak pernah benar-benar kehilangan nasihat dan doanya.
(Bersambung…)

0 Response to "Dulu Ia Gadis Bandung, Kini Ia Rindu Yang Tak Pernah Usai."
Post a Comment