-->

Pengen Buku Vibe Online

Mari Belajar Aneka Soal Pretest PPG silahkan klik Pre Test PPG PAI

7 Kesalahan Guru Menyusun Modul Ajar Kurikulum Merdeka dan Solusinya

 

Sejak diberlakukannya Kurikulum Merdeka, istilah modul ajar menjadi sangat akrab di telinga guru. Hampir setiap pelatihan, lokakarya, hingga supervisi sekolah selalu menyinggung pentingnya modul ajar sebagai pengganti RPP. Sayangnya, di lapangan masih banyak guru yang merasa “sudah membuat modul ajar”, tetapi pembelajaran di kelas tidak banyak berubah.

Masalahnya bukan pada niat guru, melainkan pada kesalahan-kesalahan umum yang sering tidak disadari saat menyusun modul ajar. Artikel ini akan membahas 7 kesalahan guru dalam menyusun modul ajar Kurikulum Merdeka, lengkap dengan penjelasan dan refleksi agar modul ajar benar-benar menjadi alat pembelajaran yang bermakna, bukan sekadar dokumen administrasi.


1. Modul Ajar Diposisikan Hanya sebagai Formalitas Administrasi

Kesalahan pertama dan paling mendasar adalah memandang modul ajar hanya sebagai dokumen kelengkapan administrasi. Modul ajar disusun rapi, dicetak, dikumpulkan, tetapi tidak pernah benar-benar digunakan sebagai panduan mengajar.

Akibatnya, saat masuk kelas, guru tetap mengajar seperti biasa: ceramah, mencatat, lalu memberi tugas. Modul ajar hanya “hidup” di map, bukan di ruang kelas.

Padahal, dalam Kurikulum Merdeka, modul ajar dirancang sebagai alat bantu guru untuk merancang pengalaman belajar murid. Modul ajar seharusnya:

  • Membantu guru memetakan alur belajar

  • Menjadi pengingat tujuan pembelajaran

  • Menjadi acuan refleksi setelah pembelajaran selesai

Jika modul ajar tidak digunakan saat mengajar, maka esensi Kurikulum Merdeka belum benar-benar dipahami.


2. Tujuan Pembelajaran Tidak Jelas dan Tidak Terukur

Kesalahan kedua yang sering terjadi adalah tujuan pembelajaran yang kabur. Banyak modul ajar memuat tujuan seperti:

  • “Siswa memahami materi…”

  • “Peserta didik mengetahui tentang…”

Tujuan seperti ini sulit diukur dan tidak menunjukkan secara jelas apa yang harus bisa dilakukan murid setelah belajar.

Dalam modul ajar Kurikulum Merdeka, tujuan pembelajaran seharusnya:

  • Spesifik

  • Dapat diamati

  • Dapat diukur

Contoh tujuan yang kurang tepat:

“Peserta didik memahami makna kejujuran.”

Contoh tujuan yang lebih baik:

“Peserta didik mampu menjelaskan makna kejujuran dan memberi contoh perilaku jujur dalam kehidupan sehari-hari.”

Tujuan pembelajaran adalah jantung modul ajar. Jika tujuannya tidak jelas, maka langkah pembelajaran dan asesmen akan ikut kabur.


3. Langkah Pembelajaran Tidak Mencerminkan Pembelajaran Bermakna

Banyak modul ajar yang langkah pembelajarannya terlihat lengkap, tetapi isinya masih sangat tradisional. Polanya berulang:

  • Guru menjelaskan

  • Murid mencatat

  • Murid mengerjakan soal

Pembelajaran seperti ini belum mencerminkan semangat Kurikulum Merdeka yang menekankan pengalaman belajar bermakna. Murid seharusnya:

  • Aktif bertanya

  • Berdiskusi

  • Mengamati

  • Menganalisis

  • Mengaitkan materi dengan kehidupan nyata

Langkah pembelajaran yang baik tidak harus rumit, tetapi harus memberi ruang bagi murid untuk berpikir dan berperan aktif. Kurikulum Merdeka bukan tentang banyaknya aktivitas, melainkan kualitas pengalaman belajar.


4. Asesmen Tidak Selaras dengan Tujuan Pembelajaran

Kesalahan berikutnya adalah ketidaksesuaian antara tujuan pembelajaran dan asesmen. Contohnya, tujuan pembelajaran menuntut murid mampu menganalisis, tetapi asesmen yang diberikan hanya berupa soal pilihan ganda hafalan.

Dalam modul ajar, seharusnya ada keselarasan antara:

  • Tujuan pembelajaran

  • Aktivitas pembelajaran

  • Asesmen

Jika tujuan pembelajaran menekankan keterampilan berpikir tingkat tinggi, maka asesmen pun harus memberi ruang pada murid untuk:

  • Menjelaskan alasan

  • Memberi pendapat

  • Menyelesaikan masalah kontekstual

Selain itu, banyak modul ajar yang hanya memuat asesmen sumatif, tanpa asesmen formatif. Padahal, asesmen formatif sangat penting untuk memantau proses belajar murid dan memberi umpan balik sejak dini.


5. Mengabaikan Diferensiasi Pembelajaran

Salah satu ciri khas Kurikulum Merdeka adalah pengakuan bahwa setiap murid itu berbeda. Namun, dalam praktiknya, banyak modul ajar masih menyamaratakan semua murid:

  • Tugas sama

  • Cara belajar sama

  • Target waktu sama

Padahal, murid memiliki perbedaan:

  • Kesiapan belajar

  • Minat

  • Gaya belajar

Modul ajar yang baik seharusnya memberi ruang diferensiasi, meskipun sederhana. Misalnya:

  • Pilihan tugas

  • Variasi cara menyampaikan hasil belajar

  • Pendampingan khusus bagi murid tertentu

Diferensiasi bukan berarti mempersulit guru, tetapi justru membantu murid belajar sesuai kebutuhannya.


6. Modul Ajar Tidak Kontekstual dengan Dunia Murid

Kesalahan keenam adalah modul ajar yang jauh dari kehidupan murid. Contoh, materi disampaikan dengan ilustrasi yang tidak pernah mereka temui, atau kasus yang tidak relevan dengan lingkungan sekitar.

Pembelajaran akan lebih bermakna jika murid merasa:

“Ini tentang hidup saya.”

Modul ajar seharusnya mengaitkan materi dengan:

  • Kehidupan sehari-hari murid

  • Lingkungan sekolah

  • Budaya lokal

  • Fenomena yang mereka alami

Kontekstualisasi tidak selalu harus besar. Contoh sederhana dari kehidupan murid sering kali jauh lebih efektif daripada contoh yang terlalu akademis.


7. Menyalin Modul Ajar Tanpa Refleksi dan Adaptasi

Kesalahan terakhir yang cukup sering terjadi adalah menyalin modul ajar dari internet tanpa refleksi. Berbagi modul ajar sebenarnya hal yang positif. Namun, masalah muncul ketika modul ajar digunakan mentah-mentah tanpa disesuaikan dengan:

  • Karakter murid

  • Kondisi sekolah

  • Waktu pembelajaran

  • Gaya mengajar guru

Modul ajar bukan resep masakan yang bisa langsung dipakai. Ia perlu adaptasi dan refleksi. Guru tetap memegang peran utama sebagai perancang pembelajaran, bukan sekadar pengguna dokumen.


Refleksi: Apakah Modul Ajar Kita Sudah Membantu Murid Belajar?

Sebelum menutup modul ajar, ada baiknya guru bertanya pada diri sendiri:

  • Apakah modul ini benar-benar saya gunakan saat mengajar?

  • Apakah murid lebih aktif belajar dengan modul ini?

  • Apakah pembelajaran menjadi lebih bermakna?

Pertanyaan reflektif seperti ini jauh lebih penting daripada sekadar memastikan modul ajar “lengkap”.


Penutup: Modul Ajar Bukan Soal Lengkap, Tapi Bermakna

Modul ajar Kurikulum Merdeka bukan tentang seberapa tebal dokumen yang kita susun, melainkan seberapa besar dampaknya bagi proses belajar murid. Kesalahan-kesalahan di atas bukan untuk menyalahkan guru, tetapi sebagai bahan refleksi bersama.

Perubahan tidak harus langsung besar. Mulailah dari satu hal kecil:

  • Memperjelas tujuan pembelajaran

  • Menyederhanakan langkah pembelajaran

  • Menambahkan asesmen formatif

  • Mengaitkan materi dengan kehidupan murid

Ketika modul ajar disusun dengan kesadaran dan refleksi, pembelajaran pun akan berubah. Dan di situlah esensi Kurikulum Merdeka benar-benar hidup di kelas.


Perlu Perangkat Pembelajaran Mendalam PAI SMP Klik Disini

0 Response to "7 Kesalahan Guru Menyusun Modul Ajar Kurikulum Merdeka dan Solusinya"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel