-->

Pengen Buku Vibe Online

Mari Belajar Aneka Soal Pretest PPG silahkan klik Pre Test PPG PAI

Renungan Isra Mi'raj

 


Peristiwa Isra Mi’raj bukan hanya perjalanan luar biasa dalam sejarah Islam, tetapi juga titik balik spiritual setelah fase paling menyakitkan dalam kehidupan Rasulullah ﷺ. Sebelum dimuliakan Allah dengan perjalanan agung itu, Nabi Muhammad mengalami rentetan kesedihan yang nyaris bertubi-tubi. Dari sinilah kita belajar: pertolongan Allah sering datang setelah kesabaran diuji hingga batasnya.


Tahun Kesedihan (عام الحزن): Luka yang Berlapis

Sebelum Isra Mi’raj, Rasulullah ﷺ melewati fase yang dikenal sebagai ‘Aamul Huzn (Tahun Kesedihan). Tahun ini menjadi saksi betapa berat ujian yang Allah berikan kepada hamba-Nya yang paling mulia.

1. Boikot Kejam Quraisy

Kaum Quraisy memboikot Bani Hasyim dan Bani Muthalib. Mereka diisolasi secara sosial dan ekonomi.

  • Tidak boleh berdagang

  • Tidak boleh menikah

  • Tidak boleh berinteraksi

Rasulullah ﷺ dan para pengikutnya menahan lapar, bahkan daun-daunan menjadi makanan. Dakwah ditekan, kehidupan dipersempit, namun iman tetap tegak.


2. Wafatnya Siti Khadijah: Hilangnya Penopang Jiwa

Khadijah binti Khuwailid wafat.
Beliau bukan sekadar istri, tetapi:

  • Orang pertama yang beriman

  • Penghibur saat Nabi dituduh gila dan pendusta

  • Penyokong dakwah dengan harta dan cinta

Kehilangannya meninggalkan luka emosional yang sangat dalam. Rumah yang dulu penuh penguatan, kini sunyi.


3. Wafatnya Abu Thalib: Hilangnya Pelindung Dakwah

Tak lama berselang, wafat pula Abu Thalib, paman yang melindungi Nabi dari kekerasan Quraisy.
Walau Abu Thalib tidak masuk Islam, jasanya luar biasa:

  • Menjadi tameng fisik Rasulullah

  • Menahan agresi Quraisy

  • Menjaga keselamatan dakwah

Setelah wafatnya, tekanan Quraisy meningkat drastis.


4. Tragedi Thaif: Luka Fisik dan Batin

Rasulullah ﷺ pergi ke Thaif dengan harapan mendapat dukungan dakwah. Yang terjadi justru sebaliknya:

  • Dicemooh

  • Diusir

  • Dilempari batu hingga berdarah

Dalam kondisi terluka, beliau berdoa—bukan minta kebinasaan musuh, tetapi memohon agar mereka diberi hidayah. Inilah puncak akhlak kenabian.


Isra Mi’raj: Undangan Langsung dari Langit

Setelah semua luka itu, Allah memuliakan Rasul-Nya dengan Isra Mi’raj—perjalanan dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha, lalu menembus langit hingga Sidratul Muntaha.

Isra Mi'raj bukan sekadar mukjizat fisik, melainkan:

  • Penguatan iman setelah kehancuran batin

  • Penghormatan setelah penghinaan

  • Dialog langsung Nabi dengan Allah

Hadiah terbesarnya adalah shalat, ibadah yang menjadi:

“Mi’rajnya orang beriman.”


Renungan Mendalam untuk Kita Hari Ini

  1. Kesedihan bukan tanda ditinggalkan Allah
    Justru Rasul terbaik pun diuji dengan kehilangan, penolakan, dan penderitaan.

  2. Ketika semua pintu bumi tertutup, pintu langit terbuka
    Thaif menolak, Makkah menyakiti, tapi Allah memanggil Nabi-Nya naik ke langit.

  3. Shalat lahir dari penderitaan, bukan kenyamanan
    Maka shalat adalah tempat kembali saat hati lelah.


Penutup: Dari Luka Menuju Cahaya

Isra Mi’raj mengajarkan satu pesan besar:
Allah Maha Mengetahui kapan hamba-Nya perlu diuji, dan kapan ia perlu dimuliakan.

Jika hari ini hidup terasa berat, ingatlah:

Rasulullah ﷺ pun pernah berada di titik paling gelap, sebelum Allah memberinya cahaya paling terang.

Semoga kisah ini meneguhkan iman, menguatkan sabar, dan menghidupkan kembali makna shalat dalam hidup kita. 

0 Response to "Renungan Isra Mi'raj"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel